[ESAI] Demokrasi di Media Sosial: Warnai dengan Aspirasi yang Bertanggung Jawab

“Dari 167 negara, Indonesia menempati urutan ke-48 dalam daftar negara berdemokrasi.”

Jika dirunut pengertian yang dikemukakan Abraham Lincoln, demokrasi adalah sistem pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.  Menurut indeks demokrasi yang dikeluarkan oleh The Economist Intelligence Unit, Indonesia pada tahun 2016 menempati urutan ke-48 dalam daftar negara berdemokrasi. Posisi ini naik satu tingkatan yang mana pada tahun 2015, Indonesia berada di urutan ke-49. Pada tahun 2016 menurut indeks demokrasi tersebut, dalam skala 0-10, nilai fungsi pemerintahan di Indonesia adalah 7,14 dengan tingkat partisipasi politik masyarakatnya sebesar 6,67.

ed2
Indeks demokrasi dari 167 negara yang dikeluarkan oleh The Economist Intellegence Unit

Berbicara mengenai partisipasi politik, sebagai negara demokrasi, peranan rakyat Indonesia tentu sangatlah besar untuk menggerakkan roda perjalanan negara ini. Pernyataan yang mengatakan bahwa Indonesia adalah negara demokrasi bukanlah pernyataan tanpa dasar. Sebab hal itu tercermin pada pasal 1 ayat (2) UUD 1945 yang isinya menyebutkan: “Kedaulatan berada di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut Undang-Undang Dasar.” Jadi dari isi undang-undang pada pasal tersebut, sudah jelas bahwa rakyat memegang tongkat kedaulatan dalam pergerakan negara Indonesia.

Salah satu hak yang diberikan kepada rakyat dalam perwujudan demokrasi di Indonesia adalah adanya kebebasan berpendapat. Kebebasan tersebut terkandung dalam pasal 28 UUD 1945 yang berbunyi: “Kemerdekaan berserikat berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan sebagainya diatur dengan Undang-Undang.” Dengan adanya kebebasan berpendapat, itulah salah satu cara agar warga negara Indonesia dapat berpartisipasi aktif untuk ikut berperan dalam membangun negeri.

Sebagai negara yang umurnya hampir 72 tahun, praktis Indonesia memiliki perjalanan panjang dalam riwayat pendemokrasian. Karena demokrasi bukanlah sekedar wacana kosong yang tertulis dalam konstitusi, tapi juga tata cara yang dihidupkan untuk mengisi harapan rakyat agar tak adanya pemangku jabatan yang bermental feodal. Telah banyak peristiwa aksi-aksi yang dilakukan oleh berbagai lapisan masyarakat agar pemerintah selalu mengingat tujuan utama bangsa; untuk melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, ikut serta melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.

Di zaman yang sudah serba canggih seperti sekarang ini, sebenarnya ada banyak cara bagi warga Indonesia untuk menyampaikan aspirasi dan mengekspresikan keinginannya terhadap negeri. Salah satu cara mudah—yang secara sadar atau tidak sadar telah dilakukan—adalah melalui social media. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya komentar atau respon yang ditulis masyarakat melalui media sosial terhadap kebijakan-kebijakan yang diambil oleh pemerintah.

Facebook, Google+, Twitter, hingga Instagram adalah segelintir social media yang paling banyak digunakan oleh warga Indonesia. Dilansir dari statistik digital yang dirilis oleh We Are Social, pada tahun 2016 ada 88,1 juta warga Indonesia yang aktif menggunakan internet, dan 79 juta di antaranya adalah pengguna aktif media sosial. Dari jumlah tersebut, pengguna Facebook terdapat 15%, Google+ 12%, Twitter 11%, Instagram 10%, dan sebagian besar lainnya diisi oleh penggunaan media messenger/chat app, yaitu BBM yang menempati urutan paling atas berkisar di angka 19%, Whatsapp 14%, Facebook Messenger 13%, hingga Line 12%.

ed4
Data statistik pengguna internet di Indonesia yang dikeluarkan We Are Social tahun 2016
ed3
Presentase daftar social network dan chat app yang aktif digunakan pengguna internet di Indonesia. Dirilis oleh We Are Social pada tahun 2016

Melihat besarnya angka tersebut, tentunya sangat mungkin bila arus informasi yang terjadi di negara ini berjalan sangat cepat untuk mendukung terciptanya proses demokrasi. Namun pertanyaan yang muncul adalah: Apakah proses penyebaran tersebut terjadi secara masif untuk menjamin kejernihan dan keutuhan informasi yang diterima masyarakat? Ketidakjelasan pengadaan data dan bercabangnya berita yang terkadang diterima masyarakat inilah yang lantas menyebabkan bias informasi sering terjadi. Yang mana dapat dipastikan hal ini bukan hanya merugikan masyarakat sebagai penerima informasi, namun juga mencederai proses demokrasi yang bertanggung jawab. Padahal di dalam keadaan masyarakat yang rutin dan tak lepas dari internet ini, social media sangatlah berpengaruh untuk membentuk kerangka paradigma secara luas yang akhirnya akan diserap oleh masing-masing individu.

Ditambah lagi pola pemikiran dan cara pandang masyarakat Indonesia yang berbeda-beda dalam menyikapi suatu isu atau permasalahan. Memang tak dapat dipungkiri bahwa perbedaan sangat rentan terjadi di antara masyarakat Indonesia, apalagi keadaan bangsa Indonesia yang dianugerahi keberagaman suku hingga kebudayaan yang memungkinkan terjadinya perbedaan latar belakang dalam menghadapi situasi. Namun yang patut diingat bahwa perbedaan sebenarnya sebuah keindahan selama kita dapat menjadikan hal itu sebagai suatu kekuatan untuk mencapai tujuan. Pelangi indah karena warnanya yang tak sama, bukan?

Fenomena penerapan proses mengemukakan pendapat di social media juga tak lepas dari pelontaran pendapat atau komentar dari masing-masing masyarakat. Situasi ‘balas-membalas’, ‘kritik-mengkritik’ hingga ‘sindir-menyindir’ antara beberapa bagian masyarakat merupakan hal-hal yang sering mewarnai linimasa/timeline social media. Selama di dalam batas wajar, sebenarnya situasi tersebut masih dapat dimaklumi karena adanya indikasi sadar dan kritisnya masyarakat terhadap keadaan yang terjadi di sekitar. Namun yang menjadi kekhawatiran adalah apabila situasi-situasi tersebut terjadi di luar batas dan sulit dikontrol yang membuat  proses mengemukakan pendapat itu keluar dari jalur tujuannya. Mengapa dikatakan keluar dari jalur tujuan? Sebab proses demokrasi merupakan salah satu cara untuk menangani keberagaman masyarakat Indonesia, yang mana semuanya itu berujung pada persatuan dan kesatuan Indonesia. Sehingga jika dalam prosesnya saja terjadi situasi yang sulit dikendalikan oleh prinsip demokrasi, maka  rentan akan terjadi hal yang bertolak belakang dengan persatuan. Tentunya, itu adalah hal yang tidak diharapkan oleh seluruh rakyat Indonesia.

Memang penegakan demokrasi demi persatuan Indonesia adalah hal yang mudah untuk diucapkan. Tetapi pelaksanaan tak semudah pengucapannya. Banyak batu sandungan yang terkadang harus menghalangi jalan tersebut. Seperti ditonjolkannya kepentingan golongan, terabaikannya pendapat masyarakat luas, hingga bias informasi yang memudahkan pertumbuhan berita hoax (bohong). Namun bagaimanapun keadannya, semestinya semua pihak mengingat bahwasanya Indonesia adalah tujuan, Indonesia bukanlah alat. Sekalipun ingin menjadikan kebebasan berpendapat di Indonesia sebagai alat, pakailah alat tersebut dengan bijaksana demi kepentingan Indonesia. Ini bukan tentang siapa yang paling hebat, bukan tentang adu argumen siapa yang paling benar, namun ini tentang menjadikan Indonesia hebat dengan penegakan demokrasi yang sebenar-benarnya. Pemanfaatan social media yang sedang populer di masyarakat seyogianya dapat diperuntukkan untuk kemaslahatan segenap bangsa, bukan demi kepentingan sekelompok saja.

Maka dari itu, selain bisa mengemukakan pendapat dengan lantang, kita pun juga patut menaati dan saling mengingatkan peraturan yang ada dengan lantang pula. Jangan lupa bahwa ada peraturan pada pasal 6 Undang-Undang No. 9 Tahun 1998 yang isinya merupakan kewajiban dan tanggung jawab warga negara dalam melaksanakan  kemerdekaan mengemukakan pendapat secara bebas dan bertanggungjawab di muka umum, yang kewajiban dan peraturan tersebut terdiri dari: a.)  menghormati hak-hak dan kebebasan orang lain, b.) menghormati aturan-aturan moral yang diakui umum, c.)  menaati hukum dan ketentuan peraturan perundangundangan yang berlaku, d.) menjaga dan menghormati keamanan dan ketertiban umum, dan e.)  menjaga keutuhan persatuan dan kesatuan bangsa.

Jika dikupas satu persatu secara garis besar, aturan-aturan tersebut bukanlah hal yang mustahil untuk ditaati dalam penerapan kebebasan berpendapat melalui social media: a.) Menghormati hak-hak dan kebebasan orang lain. Saatnya biarkan orang lain menulis apa yang ingin mereka tulis di social media, jika dari awal kita rasa tak menyukainya, lebih baik tak usah dibaca daripada harus menghina apa yang ia tulis dan pada akhirnya tulisan itu ‘naik’ ke permukaan dan dibaca oleh lebih banyak lagi orang. Social media adalah salah satu wadah untuk menampung aspirasi, maka selama apa yang ditulis demi kebaikan bangsa, maka biarkan wadah itu menampung aspirasi yang seharusnya ditampung. b.) Menghormati aturan-aturan moral yang diakui umum. Sebagai warga yang menjadi bagian masyarakat, tentunya ada aturan yang tidak bisa kita lepas begitu saja. Selain itu, Indonesia terkenal dengan warganya yang ramah, maka terapkan demokrasi dengan tidak mencoreng anggapan tersebut agar kerukunan antar masyarakat selalu bisa terjaga dengan baik .c.) Menaati hukum dan ketentuan peraturan perundangundangan yang berlaku. Salah satu aturan yang berkaitan dengan social media adalah Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE). Maka dalam penggunaan social media, sebaiknya undang-undang tersebut tidaklah diabaikan agar tercapainya kondisi interaksi di media daring yang kondusif. Tentunya adalah hal yang bagus bila kondisi itu tercapai, bukan? Sebab cara terbaik menjaga kehormatan bangsa adalah dengan menghormati aturan-aturan yang dibuat. d.) Menjaga dan menghormati keamanan dan ketertiban umum. Jika mengemukakan pendapat di depan umum secara langsung aturan ini bisa dilaksanakan dengan tidak mengganggu ketertiban masyarakat di sekitar, maka di social media cara ini dapat dilakukan dengan tidak menyulut emosi verbal pengguna social media yang lain. Tidak ada yang salah dengan menghargai pendapat orang lain untuk menghasilkan kualitas proses demokrasi yang baik. e.) Menjaga keutuhan persatuan dan kesatuan bangsa. Sudah dijabarkan di atas bahwa untuk persatuan dan kesatuan bangsa dapat dicapai dengan menegakkan prinsip demokrasi yang baik dan bertanggungjawab. Sehingga sudah sepantasnya social media digunakan dengan baik dan cerdas sehingga kita tidak terpecah belah karena perbedaan argumen di media sosial.

Memang dalam menyampaikan aspirasi social media, kita menggunakan media daring yang memanfaatkan dunia maya. Namun, itu bukanlah alasan untuk tidak mempertanggungjawabkan apa yang telah disampaikan di sana. Karena pada dasarnya pendapat yang dilontarkan di media sosial akan berpengaruh pada keadaan sebenarnya yang tengah terjadi. Selain itu, bukankah apa yang kita tulis di media sosial akan lebih mudah untuk dilihat orang banyak? Sehingga, adalah hal yang penting untuk berpedoman dengan memegang teguh kewajiban dan peraturan dalam mengemukakan pendapat, sekalipun itu melalui social media. Jangan sampai kewajiban dan peraturan yang tertera pada pasal 6 Undang-Undang No. 9 Tahun 1998 itu hanya sebatas rangkaian huruf yang memenuhi konstitusi tapi tak kunjung terimplementasi.

Demokrasi yang baik tentulah harus dibingkai dengan penerapan yang baik pula. Penerapan tersebutlah yang nanti akan dapat menimbulkan kebiasaan atau budaya berdemokrasi dalam kehidupan sehari-hari. Realisasi budaya berdemokrasi bukanlah hal sulit yang tidak mungkin untuk dilakukan, tetapi sebaliknya, dengan langkah-langkah sederhana namun berdampak besar, kita bisa menjaga persatuan dan menegakkan prinsip berdemokrasi di Indonesia meski hanya melalui social media. Karena sesuatu yang besar pun dimulai dari sesuatu yang sederhana terlebih dahulu. Termasuk penerapan kehidupan berdemokrasi di Indonesia yang dapat dimulai dari diri sendiri. Jadi, sudah siap menegakkan tongkat demokrasi yang baik dan bertanggungjawab di media sosial dari sekarang?


Naskah esai di atas merupakan naskah yang dilombakan pada acara Akuntansi Beraspirasi dan Berkontribusi 2017 (Politeknik Negeri Jakarta).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: