Perputaran Tangga?

Waktu berjalan, kehidupan bergulir, usia bertambah  berkurang, dan pengalaman pun tak henti-hentinya menjejalkan beragam kisah. Jam terus berputar ke kanan sebagaimana takdirnya. Namun, apa kabar dengan nasib? Apakah akan ada masanya ia akan berputar dan merasakan dentingan pukul 12.00?

Tidak, ini bukan soal jam berapa. Ini tentang proses perputaran hidup-yang-mungkin-lebih-layak-disebut-sebagai-tangga. Benar, kali ini yang kukatakan mengenai proses siklus yang dalam praktiknya entah mengapa terasa seperti menapaki anak tangga; kadang kaki terlalu pendek untuk menaiki anak tangga yang tinggi, atau bahkan anak tangga yang terlalu banyak untuk terus dijelajahi.

Bagaikan jarum jam di angka 06.00 yang terus berjalan menuju angka 12.00, ternyata begini rasanya berjuang menuju ke arah yang lebih pantas disebut sebagai tujuan pengharapan. Selayaknya detik angka 1 yang harus 3600 kali bergerak hingga pada akhirnya ia bisa naik ke tangga atasnya. Mungkin seperti itulah hidup, berjuang sekali-duakali tidaklah cukup, harus puluhan kali, ratusan kali, atau bahkan … ribuan kali.

Namun pertanyaannya: apakah baterai energi yang dimiliki akan selalu kuat untuk terus bergerak hingga ribuan kali untuk naik ke tangga selanjutnya? Ini yang terkadang justru menimbulkan segenap keraguan, kecemasan, dan kekhawatiran. Akankah semuanya akan tetap baik-baik saja setiap satu anak tangga berhasil dicapai?

Dan … apakah benar jika semakin tinggi tangga yang ditapaki maka akan semakin sulit satu dentingan untuk berdetak? Jika jawabannya iya, apakah ini yang dinamakan dengan tangga menuju kedewasaan? Di mana langkah kaki semakin terasa berat untuk diangkat, meski segenap jiwa sangat ingin bergerak. Saat pikiran justru terisi penuh, namun tetap saja terasa kosong. Saat ribuan kata berdesakkan ingin diutarakan, tetapi bibir terasa dikunci; sulit untuk mengucapkan. Apakah ini? Apakah ini tangga kedewasaan yang sering dimaksudkan orang-orang? Saat keinginan hanya bisa ditelan bulat-bulat, dan ego harus dibakar musnah-musnah. Melenyapkan angan sendiri, agar bisa menghidupi angan orang-orang tersayang.

Terkadang sulit memang, menerima kenyataan bahwa harapan yang telah dipupuk sejak lama, ternyata harus disingkirkan demi bisa memupuk harapan-harapan lain. Ah, aku salah, bukan disingkirkan, maksudku dipendam. Ya hanya dipendam, namun dipendam yang terlalu … dalam. Barangkali suatu saat harapan itu dapat kembali muncul ke permukaan. Bukankah begitu cara kerja berharap? Selalu ada harapan di belakang harapan?

Tapi, sungguh, inilah pertanyaan sering kurapatkan dengan diri sendiri, berdiskusi dengan hati, dan berharap jiwa akan mengerti. Sebeginikah tangga yang harus ditanjaki agar bisa mencapai tingkat kedewasaan? Saat getir senyum harus dikeluarkan karena di dalam hati ada tangis yang sedang bersuara; saat bahu lain menjadikan diri ini sandaran, meski sebenarnya jiwa ini rapuh dan butuh pula disandarkan. Benarkah seperti ini keadaannya? Haruskah kita terlatih untuk memindahkan lengkungan senyum di wajah sendiri ke wajah orang lain?

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: