Bukankah Kita Semua Sama?

Entah benar atau tidak, entah hanya perasaan saya saja atau bukan. Kita semua hidup dalam tatanan yang hierarki; yang menjadikan semua menempati anak tangga masing-masing. Di mana mereka yang berada di anak tangga bawah harus menunduk saat berhadapan dengan mereka yang berada di anak tangga atas. Padahal seharusnya, yang di ataslah yang harus menunduk untuk menengok mereka yang di bawah.

Ah, tapi apakah sungguh-sungguh menengok? Jika mereka, manusia yang berbeda tingkatan, tak pernah bertemu muka apalagi bertegur rasa?

Terkadang saya melihat ketimpangan yang sangat jelas. Miris rasanya saat melihat ada orangtua yang demi mengisi perut harus memungut daun gugur di jalan, sementara di luar sana ada orang yang dengan sengaja menggugurkan daun, meski takdirnya daun gugur itu dijatuhkan oleh angin.

Miris rasanya saat di dalam gedung saya merasakan begitu nyamannya menikmati hasil kerja sebuah mesin pendingin bernama air conditioner, namun hanya dengan berjalan keluar–yang jaraknya bahkan tak sampai 1 kilometer–saya melihat seseorang yang dengan tegarnya menyeka bulir keringat, dengan keadaan yang tidak nyaman sama sekali. Mengandalkan kardus, hingga kertas, ia mengolah angin versi dirinya sendiri.

Ketimpangan macam apa ini?

Miris rasanya saat saya melihat harga pakaian yang mencapai angka jutaan rupiah. Padahal bagi orang lain di luar sana, jutaan rupiah itu adalah jumlah baginya untuk hidup satu bulan; membayar kontrakan, biaya makan satu bulan, hingga biaya pendidikan.

Ketimpangan macam apa ini?

Miris rasanya saat saya melihat seseorang menghardik orang lainnya hanya karena orang tersebut melakukan kesalahan kecil. Terlebih jika orang yang menghardik tersebut selanjutnya tak nampak merasa bersalah hanya karena orang yang dimarahinya tak berpenampilan lebih baik darinya.

Ketimpangan macam apa ini?

Miris rasanya saat saya menyadari seringkali kita merengek gundah hanya karena kuota internet tak terisi. Padahal di luar sana, atau bahkan di dekat kita, ada orang yang tetap tabah meski perutnya belum terisi.

Ketimpangan macam apa ini?

Mengapa kita saling membiarkan begitu banyak ketimpangan-ketimpangan itu terjadi?

Mengapa kita harus termakan oleh pola pikir umum yang seolah mengatakan bahwa ada perbedaan sejauh langit dan bumi di antara mereka yang kaya dan yang berkecukupan?

Mengapa kita harus membatasi diri dengan pemikiran kita sendiri?

Mengapa kita harus terpojokkan dengan sekat yang sebenarnya kita ciptakan sendiri?

Memisahkan antara si kaya dan si berkecukupan dengan sekat anggapan bahwa yang kaya lebih segala-galanya.

Memisahkan antara si pintar dan si-yang-sedang-berusaha dengan sekat anggapan bahwa yang pintar jauh lebih hebat.

Memisahkan antara si rupawan fisiknya dan si-indah-hatinya dengan sekat anggapan bahwa yang rupawan fisiknya lebih layak untuk dipandang.

Mengapa kita membiarkan semuanya berjalan sejauh ini?

Bukankah sebenarnya kita semua ini sama?

Bukankah kita ini sebenarnya sama-sama manusia?

Apa yang membedakan orang yang jabatannya tinggi dengan mereka yang jabatannya tak ada di daftar organisasi?

Bukankah mereka semua, mereka yang terlibat, sama-sama memiliki peranan?

Terkadang saya membayangkan betapa petugas kebersihan kerapkali dipandang sebelah mata.

Sementara orang yang berdasi, memakai jas bagus, dan menggunakan sepatu licin, langsung dipandang dengan pandangan yang berbinar?

Mengapa demikian? Bukankah keduanya sama-sama memiliki peranan?

Bukankah semuanya sama-sama memiliki tugas yang berdampak bagi sekitarnya? Lalu mengapa harus ada perlakuan yang berbeda di antara keduanya?

Di hadapan orang yang berjabatan tinggi, dengan rendah hatinya kita membungkukkan badan saat lewat di hadapan mereka. Namun, di hadapan petugas kebersihan, sudah seringkah kita lewat sambil membungkukkan badan dan juga merasa bersalah karena menginjak-injak lahan yang sedang ia bersihkan?

Lagi-lagi saya bertanya, bukankah kita semuanya sama? Bukankah kita hidup di dalam dunia yang bagian tatanan di dalamnya kosong, dan kita hanya perlu mengisi tanpa perlu menyekati?

Terkadang saya juga berpikir, apa jadinya jika semua orang di dunia ini memiliki jabatan seperti manajer hingga direktur. Semua orang. Lantas apa yang terjadi? Kantor-kantor akan menjadi sangat semerawut, bukan? Tak ada petugas kebersihan yang tugas mulianya menciptakan kenyamanan dari ruangan yang bersih, tak ada petugas katering yang tugas berharganya menjamin kecukupan kebutuhan tubuh, tak ada supir kendaraan yang tugas berjasanya membantu kemudahan bertransportasi orang-orang-yang-katanya-di-atas.

Maka dari itu, bukankah kita semua sama? Kita hanya menjalani peran masing-masing dalam hidup, dan tidak selayaknya untuk menjatuhkan harga diri orang lain hanya karena menganggap diri sendiri lebih tinggi.

Karena saya percaya bahwa yang membedakan manusia adalah derajat ketaqwaan di hadapan Allah SWT. Saling menyeimbangkan komponen-komponen kehidupan itulah usaha yang bisa dilakukan untuk tidak menciptakan ketimpangan.

Mari hidup saling beriringan, bukan saling menjauhkan, apalagi menjatuhkan.

Mari hidup saling mendampingi, bukan saling menyekati, apalagi menyakiti.

Tulisan ini dibuat hanya sebagai keresahan pribadi penulis.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: